Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

About Me

Foto Saya
Devi puspasari
sometimes love makes us happy but sometimes love makes us sick that is LOVE <3
Lihat profil lengkapku

Blog Archive

About Me

Foto Saya
Devi puspasari
sometimes love makes us happy but sometimes love makes us sick that is LOVE <3
Lihat profil lengkapku

Jumat, 22 Februari 2013

Pandangan dan Pintu Maksiat

ada empat pintu yang sering kali menjadi jalan masuk maksiat bagi manusia. Saya akan menjelaskannya satu persatu dalam setiap bab pembahasan. 

Pandangan merupakan pemandu sekaligus utusan syahwat. Menjaga pandangan adalah pangkal terjaganya kemaluan. Barang siapa yang membebaskan pandangannya, ia pasti terjerumus dalam jurang kerusakan. Nabi Saw. bersabda: "Wahai Ali, janganlah engkau ikutkan satu pandangan dengan pandangan berikutnya! Yang pertama adalah untukmu, namun yang kedua bukan." 

Dalam Musnad, diriwayatkan dari beliau Saw., "Pandangan adalah salah satu di antara panah beracun milik iblis. Barang siapa yang menundukkan pandangannya dari kecantikan wanita ataupun lelaki yang mempesona, niscaya Allah tanamkan dalam hatinya kenikmatan beribadah hingga hari kiamat nanti." 

Nabi Saw. bersabda: "Tundukkanlah pandangan matakalian dan jagalah kemaluan kalian!" Beliau Saw. bersabda: "Jauhilah duduk di jalanan!" Para •ahabat lalu bertanya, "Wahai Rasulullah, itu adalah tempat kami terbiasa duduk." 

Beliau Saw. menjawab, "Apabila kalian tetap duduk di situ, berikanlah kepada jalan apa yang menjadi haknya!" Mereka pun bertanya lagi, "Apa yang menjadi haknya?" "Menjaga pandangan, tidak mengganggu, dan menjawab salam", jawab beliau. 

Pandangan adalah pangkal musibah yang menimpa manusia. Ia melahirkan selintas bayangan, lalu menjadi pikiran, dan Kemudian menimbulkan syahwat. Syahwat melahirkan keinginan yang terus semakin kuat hingga menjadi tekad yang membara. Setelah itu, tentu akan menjadi sebuah tindakan selagi tidak ada penghalang. Oleh karena itu, ada yang mengatakan, "Sabar dalam menundukkan pandangan itu lebih mudah daripada sabar dalam menghadapi kepedihan setelahnya." 

Seorang penyair melantunkan syairnya: 
Segala prahara berawal dari pandangan 
Api besar bermula dari lilitan kecil 
Betapa banyak pandangan menembus hati pemiliknya 
Laksana panah yang melesat di antara busur dan senarnya 
Selama manusia bermain dengan pandangannya 
Ia akan tetap terus dalam kondisi bahaya 
Matanya senang akan sesuatu yang merusak hatinya 
Janganlah kau izinkan kesenangan yang berbahaya! 

Termasuk di antara bencana pandangan adalah penyesalan, resah, dan derita. Seorang hamba akan merasakan sesuatu yang tidak dapat ia kuasai dan tidak sanggup pula ia bersabar darinya. Merupakan siksaan terberat, ketika engkau merasakan sesuatu yang tak sanggup engkau tahan sama sekali atau mungkin sebagian darinya. Bahkan, engkau juga tak sanggup menguasainya. Seorang penyair menggubah syairnya: 

Jika kau bebaskan pandanganmu menjadi pemandu hatimu 
Pastilah pemandangan-pemandangan itu melelahkan dirimu 
Kau rasakan sesuatu yang tak dapat kau kuasai sepenuhnya 
Bahkan, sebagiannya pun tak dapat kau tahan 

Bait syair ini butuh untuk dijelaskan bahwa maksudnya adalah engkau melihat sesuatu yang tak sanggup kau tahan sedikit pun dan sama sekali tidak dapat kau kuasai, sementara ketidaksanggupanmu untuk mengusai sepenuhnya telah menafikan kemampuanmu untuk mengusai setiap pandangan itu. 

Begitu banyak orang yang melepaskan pandangannya, ternyata baru bisa terlepas dari jeratnya setelah ia menjadi korban. Ini sebagaimana gubahan sebuah syair: 

Wahai orang yang lepas pandangannya dengan bebas 
Jeratnya tak akan terlepas hingga engkau menjadi korban 

Beberapa gubahan syairku: 
Pandangan menguasai, keselamatan pun pergi 
Terhenti, takjub akan keindahan yang terbayang 
Tak henti-hentinya ia menjeratku 
Hingga aku menjadi korbannya 

Anehnya, pandangan manusia laksana anak panah yang tak akan sampai kepada objek dipandangnya sehingga ia mendapatkan tempat dalam hatinya. Kasidah yang aku karang: 

Hai, yang melemparkan pandangannya dengan sungguh-sungguh 
Engkau kan jadi korban sebab ia tak mengenai sasaranmu 
 Matamu yang liar telah menjual obat mujarab baginya 
Padahal, Sang Rasul telah mencegah agar kau tak binasa 

Lebih anehnya lagi, pandangan bisa melukai hati hingga menjadi semakin parah, lalu kepedihan luka itu tak akan tercegah karena selalu ada ajakan untuk mengulanginya. Gubahan syairku: 

Kau ikuti terus keinginan pandanganmu itu 
Tertuju pada sesuatu yang menyilaukan 
Kau kira itu adalah obat luka lara yang kau rasa 
Padahal, itu hanya menjadikannya semakin parah 
Pandanganmu itu membuatmu menangis 
Kemudian, hatimu pun menjadi korban 

Ada yang mengatakan: "Sesungguhnya, pandangan itu jauh lebih mudah daripada penyesalan yang terus menerus."
separador

0 komentar:

Poskan Komentar

My Blog List

hihihhi :p

hihihhi :p

tau' ahhh....

tau' ahhh....

deppi,dewi ^_^

deppi,dewi ^_^

deppi,thiila,hanni

deppi,thiila,hanni

deppi,thilla,septi

deppi,thilla,septi

sama-sama

sama-sama

deppi

deppi

Jumat, 22 Februari 2013

Pandangan dan Pintu Maksiat

Diposkan oleh Devi puspasari di 01.18
ada empat pintu yang sering kali menjadi jalan masuk maksiat bagi manusia. Saya akan menjelaskannya satu persatu dalam setiap bab pembahasan. 

Pandangan merupakan pemandu sekaligus utusan syahwat. Menjaga pandangan adalah pangkal terjaganya kemaluan. Barang siapa yang membebaskan pandangannya, ia pasti terjerumus dalam jurang kerusakan. Nabi Saw. bersabda: "Wahai Ali, janganlah engkau ikutkan satu pandangan dengan pandangan berikutnya! Yang pertama adalah untukmu, namun yang kedua bukan." 

Dalam Musnad, diriwayatkan dari beliau Saw., "Pandangan adalah salah satu di antara panah beracun milik iblis. Barang siapa yang menundukkan pandangannya dari kecantikan wanita ataupun lelaki yang mempesona, niscaya Allah tanamkan dalam hatinya kenikmatan beribadah hingga hari kiamat nanti." 

Nabi Saw. bersabda: "Tundukkanlah pandangan matakalian dan jagalah kemaluan kalian!" Beliau Saw. bersabda: "Jauhilah duduk di jalanan!" Para •ahabat lalu bertanya, "Wahai Rasulullah, itu adalah tempat kami terbiasa duduk." 

Beliau Saw. menjawab, "Apabila kalian tetap duduk di situ, berikanlah kepada jalan apa yang menjadi haknya!" Mereka pun bertanya lagi, "Apa yang menjadi haknya?" "Menjaga pandangan, tidak mengganggu, dan menjawab salam", jawab beliau. 

Pandangan adalah pangkal musibah yang menimpa manusia. Ia melahirkan selintas bayangan, lalu menjadi pikiran, dan Kemudian menimbulkan syahwat. Syahwat melahirkan keinginan yang terus semakin kuat hingga menjadi tekad yang membara. Setelah itu, tentu akan menjadi sebuah tindakan selagi tidak ada penghalang. Oleh karena itu, ada yang mengatakan, "Sabar dalam menundukkan pandangan itu lebih mudah daripada sabar dalam menghadapi kepedihan setelahnya." 

Seorang penyair melantunkan syairnya: 
Segala prahara berawal dari pandangan 
Api besar bermula dari lilitan kecil 
Betapa banyak pandangan menembus hati pemiliknya 
Laksana panah yang melesat di antara busur dan senarnya 
Selama manusia bermain dengan pandangannya 
Ia akan tetap terus dalam kondisi bahaya 
Matanya senang akan sesuatu yang merusak hatinya 
Janganlah kau izinkan kesenangan yang berbahaya! 

Termasuk di antara bencana pandangan adalah penyesalan, resah, dan derita. Seorang hamba akan merasakan sesuatu yang tidak dapat ia kuasai dan tidak sanggup pula ia bersabar darinya. Merupakan siksaan terberat, ketika engkau merasakan sesuatu yang tak sanggup engkau tahan sama sekali atau mungkin sebagian darinya. Bahkan, engkau juga tak sanggup menguasainya. Seorang penyair menggubah syairnya: 

Jika kau bebaskan pandanganmu menjadi pemandu hatimu 
Pastilah pemandangan-pemandangan itu melelahkan dirimu 
Kau rasakan sesuatu yang tak dapat kau kuasai sepenuhnya 
Bahkan, sebagiannya pun tak dapat kau tahan 

Bait syair ini butuh untuk dijelaskan bahwa maksudnya adalah engkau melihat sesuatu yang tak sanggup kau tahan sedikit pun dan sama sekali tidak dapat kau kuasai, sementara ketidaksanggupanmu untuk mengusai sepenuhnya telah menafikan kemampuanmu untuk mengusai setiap pandangan itu. 

Begitu banyak orang yang melepaskan pandangannya, ternyata baru bisa terlepas dari jeratnya setelah ia menjadi korban. Ini sebagaimana gubahan sebuah syair: 

Wahai orang yang lepas pandangannya dengan bebas 
Jeratnya tak akan terlepas hingga engkau menjadi korban 

Beberapa gubahan syairku: 
Pandangan menguasai, keselamatan pun pergi 
Terhenti, takjub akan keindahan yang terbayang 
Tak henti-hentinya ia menjeratku 
Hingga aku menjadi korbannya 

Anehnya, pandangan manusia laksana anak panah yang tak akan sampai kepada objek dipandangnya sehingga ia mendapatkan tempat dalam hatinya. Kasidah yang aku karang: 

Hai, yang melemparkan pandangannya dengan sungguh-sungguh 
Engkau kan jadi korban sebab ia tak mengenai sasaranmu 
 Matamu yang liar telah menjual obat mujarab baginya 
Padahal, Sang Rasul telah mencegah agar kau tak binasa 

Lebih anehnya lagi, pandangan bisa melukai hati hingga menjadi semakin parah, lalu kepedihan luka itu tak akan tercegah karena selalu ada ajakan untuk mengulanginya. Gubahan syairku: 

Kau ikuti terus keinginan pandanganmu itu 
Tertuju pada sesuatu yang menyilaukan 
Kau kira itu adalah obat luka lara yang kau rasa 
Padahal, itu hanya menjadikannya semakin parah 
Pandanganmu itu membuatmu menangis 
Kemudian, hatimu pun menjadi korban 

Ada yang mengatakan: "Sesungguhnya, pandangan itu jauh lebih mudah daripada penyesalan yang terus menerus."

0 komentar on "Pandangan dan Pintu Maksiat"

Poskan Komentar

Jumat, 22 Februari 2013

Pandangan dan Pintu Maksiat


ada empat pintu yang sering kali menjadi jalan masuk maksiat bagi manusia. Saya akan menjelaskannya satu persatu dalam setiap bab pembahasan. 

Pandangan merupakan pemandu sekaligus utusan syahwat. Menjaga pandangan adalah pangkal terjaganya kemaluan. Barang siapa yang membebaskan pandangannya, ia pasti terjerumus dalam jurang kerusakan. Nabi Saw. bersabda: "Wahai Ali, janganlah engkau ikutkan satu pandangan dengan pandangan berikutnya! Yang pertama adalah untukmu, namun yang kedua bukan." 

Dalam Musnad, diriwayatkan dari beliau Saw., "Pandangan adalah salah satu di antara panah beracun milik iblis. Barang siapa yang menundukkan pandangannya dari kecantikan wanita ataupun lelaki yang mempesona, niscaya Allah tanamkan dalam hatinya kenikmatan beribadah hingga hari kiamat nanti." 

Nabi Saw. bersabda: "Tundukkanlah pandangan matakalian dan jagalah kemaluan kalian!" Beliau Saw. bersabda: "Jauhilah duduk di jalanan!" Para •ahabat lalu bertanya, "Wahai Rasulullah, itu adalah tempat kami terbiasa duduk." 

Beliau Saw. menjawab, "Apabila kalian tetap duduk di situ, berikanlah kepada jalan apa yang menjadi haknya!" Mereka pun bertanya lagi, "Apa yang menjadi haknya?" "Menjaga pandangan, tidak mengganggu, dan menjawab salam", jawab beliau. 

Pandangan adalah pangkal musibah yang menimpa manusia. Ia melahirkan selintas bayangan, lalu menjadi pikiran, dan Kemudian menimbulkan syahwat. Syahwat melahirkan keinginan yang terus semakin kuat hingga menjadi tekad yang membara. Setelah itu, tentu akan menjadi sebuah tindakan selagi tidak ada penghalang. Oleh karena itu, ada yang mengatakan, "Sabar dalam menundukkan pandangan itu lebih mudah daripada sabar dalam menghadapi kepedihan setelahnya." 

Seorang penyair melantunkan syairnya: 
Segala prahara berawal dari pandangan 
Api besar bermula dari lilitan kecil 
Betapa banyak pandangan menembus hati pemiliknya 
Laksana panah yang melesat di antara busur dan senarnya 
Selama manusia bermain dengan pandangannya 
Ia akan tetap terus dalam kondisi bahaya 
Matanya senang akan sesuatu yang merusak hatinya 
Janganlah kau izinkan kesenangan yang berbahaya! 

Termasuk di antara bencana pandangan adalah penyesalan, resah, dan derita. Seorang hamba akan merasakan sesuatu yang tidak dapat ia kuasai dan tidak sanggup pula ia bersabar darinya. Merupakan siksaan terberat, ketika engkau merasakan sesuatu yang tak sanggup engkau tahan sama sekali atau mungkin sebagian darinya. Bahkan, engkau juga tak sanggup menguasainya. Seorang penyair menggubah syairnya: 

Jika kau bebaskan pandanganmu menjadi pemandu hatimu 
Pastilah pemandangan-pemandangan itu melelahkan dirimu 
Kau rasakan sesuatu yang tak dapat kau kuasai sepenuhnya 
Bahkan, sebagiannya pun tak dapat kau tahan 

Bait syair ini butuh untuk dijelaskan bahwa maksudnya adalah engkau melihat sesuatu yang tak sanggup kau tahan sedikit pun dan sama sekali tidak dapat kau kuasai, sementara ketidaksanggupanmu untuk mengusai sepenuhnya telah menafikan kemampuanmu untuk mengusai setiap pandangan itu. 

Begitu banyak orang yang melepaskan pandangannya, ternyata baru bisa terlepas dari jeratnya setelah ia menjadi korban. Ini sebagaimana gubahan sebuah syair: 

Wahai orang yang lepas pandangannya dengan bebas 
Jeratnya tak akan terlepas hingga engkau menjadi korban 

Beberapa gubahan syairku: 
Pandangan menguasai, keselamatan pun pergi 
Terhenti, takjub akan keindahan yang terbayang 
Tak henti-hentinya ia menjeratku 
Hingga aku menjadi korbannya 

Anehnya, pandangan manusia laksana anak panah yang tak akan sampai kepada objek dipandangnya sehingga ia mendapatkan tempat dalam hatinya. Kasidah yang aku karang: 

Hai, yang melemparkan pandangannya dengan sungguh-sungguh 
Engkau kan jadi korban sebab ia tak mengenai sasaranmu 
 Matamu yang liar telah menjual obat mujarab baginya 
Padahal, Sang Rasul telah mencegah agar kau tak binasa 

Lebih anehnya lagi, pandangan bisa melukai hati hingga menjadi semakin parah, lalu kepedihan luka itu tak akan tercegah karena selalu ada ajakan untuk mengulanginya. Gubahan syairku: 

Kau ikuti terus keinginan pandanganmu itu 
Tertuju pada sesuatu yang menyilaukan 
Kau kira itu adalah obat luka lara yang kau rasa 
Padahal, itu hanya menjadikannya semakin parah 
Pandanganmu itu membuatmu menangis 
Kemudian, hatimu pun menjadi korban 

Ada yang mengatakan: "Sesungguhnya, pandangan itu jauh lebih mudah daripada penyesalan yang terus menerus."

0 komentar on "Pandangan dan Pintu Maksiat"

Poskan Komentar

Blog Archive

Followers